Beranda | Artikel
Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin Saat Idul Fitri, Apakah Benar Tidak Boleh Diucapkan?
Minggu, 24 Mei 2020

Bolehkah mengucapkan minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin saat hari raya? Karena sebagian orang masih menganggapnya tidak boleh. Coba lihat pembahasan menarik berikut.

KAEDAH UNTUK ADAT

Adat ini adalah perkara non-ibadah. Hukum asal perkara adat adalah boleh. Selama tidak ada dalil yang melarang.

Syaikh As-Sa’di mengatakan dalam bait syairnya,

والأصل في عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة

“Hukum asal adat kita adalah boleh selama tidak ada dalil yang memalingkan dari hukum bolehnya.”

Para ulama memberikan ungkapan lain untuk kaedah di atas,

الأصل في العادات الإباحة

“Hukum asal untuk masalah adat (kebiasaan manusia) adalah boleh.”

Ibnu Taimiyah berkata,

وَالْأَصْلُ فِي الْعَادَاتِ لَا يُحْظَرُ مِنْهَا إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ

Hukum asal adat (kebiasaan masyarakat) adalah tidaklah masalah selama tidak ada yang dilarang oleh Allah di dalamnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 4:196).

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata pula,

وَأَمَّا الْعَادَاتُ فَهِيَ مَا اعْتَادَهُ النَّاسُ فِي دُنْيَاهُمْ مِمَّا يَحْتَاجُونَ إلَيْهِ وَالْأَصْلُ فِيهِ عَدَمُ الْحَظْرِ فَلَا يَحْظُرُ مِنْهُ إلَّا مَا حَظَرَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Adat adalah kebiasaan manusia dalam urusan dunia mereka yang mereka butuhkan. Hukum asal kebiasaan ini adalah tidak ada larangan kecuali jika Allah melarangnya.” (Majmu’ah Al-Fatawa, 29:16-17)

Baca selengkapnya:

Hukum Ada (Kebiasaan Manusia) Asalnya Boleh

 

BEDAKAN DENGAN KAEDAH IBADAH

Para ulama biasa menyebut kaedah di atas dengan menyatakan,

الأَصْلُ فِي العِبَادَاتِ التَّحْرِيْمُ

“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”

Ulama Syafi’i berkata dengan kalimat,

اَلْأَصْلَ فِي اَلْعِبَادَةِ اَلتَّوَقُّف

“Hukum asal ibadah adalah tawaqquf (diam sampai datang dalil).”

Dalilnya dari ayat,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy-Syuraa: 21).

Juga didukung dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718). Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim, no. 1718).

Baca selengkapnya:

Kaedah Fikih: Ibadah yang Tidak Ada Tuntunan

Hukum Asal Ibadah itu Haram Sampai Ada Dalil

 

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA (AT-TAHNIAH) MASUK DALAM KAEDAH ADAT ATAU IBADAH?

Para ulama mengatakan bahwa ucapan selamat hari raya masuk dalam kaedah adat.

Para ulama katakan:

التهنئة بالعيد من باب العادات لا من العبادات، وقد قرره بعض أهل العلم كالسعدي وابن عثيمين

Ucapan selamat hari raya termasuk dalam perkara adat (non-ibadah), bukan perkara ibadat. Inilah kaedah yang ditetapkan oleh Syaikh As-Sa’di dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. (Kaedah dari Dr. Naif bin Muhamamd Al-Yahya dalam channel telegram https://t.me/fiiqh)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya Id dibolehkan. Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).” (Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 16:128)

Baca selengkapnya:

Ucapan Selamat di Hari Raya

MASALAH MENGUCAPKAN MINAL ‘AIDIN WAL FAIZIN DAN MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN (PENJELASAN DARI USTADZ DR. MUSYAFFA AD-DARINY)

Sebagian orang menyalahkan ucapan selamat saat hari raya “Minal aa’idin wal faa’iziin”, karena artinya, “Semoga termasuk orang-orang yang kembali dan menang.”

Mereka juga mengatakan: orang-orang Arab tidak menggunakan ucapan selamat seperti itu.

Maka kita katakan:

  1. Arti yang paling tepat untuk ucapan “Minal Aa’idin Wal Faa’iziin” adalah, “Selamat berhari raya, dan semoga termasuk orang yg mendapatkan kemenangan.”

Maksud dari ucapan ini adalah memberikan ucapan selamat berhari raya, dan MENDOAKAN semoga orang tersebut termasuk orang yang menang dengan banyak pahala, ampunan, dan kemuliaan yang dijanjikan oleh Allah di Bulan Ramadhan.

  1. Tidak benar bila ‘ucapan selamat’ itu tidak digunakan orang-orang Arab, karena saya sendiri -selama di Madinah- pernah mendengar beberapa orang arab mengatakannya, terutama mereka yang berasal dari negeri Syam.
  2. Para ulama telah menegaskan, bahwa ucapan selamat untuk datangnya hari raya, tidak ada batasannya, selama maknanya baik, maka dibolehkan karena syariat tidaklsh membatasinya dengan ucapan atau doa-doa tertentu.

Hal ini sama dengan dibolehkannya merayakan hari idul fitri dengan permainan, nasyid, dan hal-hal mubah lainnya. Syariat tidak membatasi jenis permainannya, atau jenis nasyidnya. Selama hal mubah itu tidak mengandung hal-hal yg diharamkan, maka dibolehkan.

Sehingga ‘ucapan selamat’ ini tidak mengapa, maknanya baik, dan cocok diucapkan di momen Hari Raya Idul Fitri, wallahu a’lam.

  1. Bagi yg ingin memasyarakatkan ucapan selamat yg dipakai oleh para sahabat -radhiyallahu anhum-, maka itu merupakan hal yang sangat baik. Mereka mengucapkan,

“Taqobbalallohu Minna wa Minkum”, yang artinya semoga Allah menerima amal kebaikan kita semua.

Namun, bukan berarti kita boleh mengharamkan atau menyalahkan ‘ucapan selamat’ lainnya tanpa dasar dalil yang kuat, wallahu a’lam.

  1. Di antara contoh ucapan selamat lain yg maknanya baik dan biasa diucapkan oleh sebagian kaum muslimin adalah:

“‘Iidukum Mubarok” (semoga hari rayanya penuh dengan keberkahan).

“‘Iidukum Sa’iid” (semoga hari rayanya penuh dengan kebahagiaan).

Taqobbalahu Thoa’atakum” (semoga Allah terima amal ketaatannya).

Tidak mengapa pula menyelipkan ucapan “Mohon maaf lahir batin”, setelah ucapan minal ‘aa-idin wal fa-izin, karena maksudnya meminta atau mengingatkan agar saling memaafkan. Waktu hari raya adalah momen berkumpulnya karib kerabat, sehingga sangat pas bila digunakan untuk saling memaafkan dan mempererat atau memperbaiki tali silaturahim.

 

UCAPAN SELAMAT HARI RAYA YANG MASIH BOLEH

  1. ‘Ied mubarak, semoga menjadi ‘ied yang penuh berkah.
  2. Minal ‘aidin wal faizin, selamat berhari raya dan meraih kemenangan.
  3. Minal ‘aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin.
  4. Kullu ‘aamin wa antum bi khair, moga di sepanjang tahun terus berada dalam kebaikan.
  5. Selamat Idul Fithri 1441 H.
  6. Sugeng Riyadi 1441 H (selamat hari raya) dalam bahasa Jawa.

Dalam fatwa Islamweb, ucapan selamat tersebut boleh diucapkan sebelum atau sesudah shalat Id.

 

KESIMPULAN

Ucapan selamat hari raya dengan ucapan apa pun dibolehkan. Begitu pula yang menerapkan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian) sebagaimana praktik para salaf di masa silam juga dipersilakan, namun bukan berarti ucapan selain ini jadi salah.

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2:446)

Ucapan Minal ‘Aidin wal Faizin itu artinya selamat berhari raya dan meraih kemenangan. Sedangkan ucapan mohon maaf lahir batin tidaklah masalah diucapkan.

Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

1 Syawal 1441 H

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com


Artikel asli: https://rumaysho.com/24526-minal-aidin-wal-faizin-mohon-maaf-lahir-dan-batin-saat-idul-fitri-apakah-benar-tidak-boleh-diucapkan.html